Perjalanan ku menuju perguruan tinggi
Hai,, perkenalkan, nama ku Septia Rahayu. Aku lahir di Koba, Bangka Tengah. Saya 5 bersaudara, dengan saudara perempuan semua. Sekarang ini, aku sedang berkuliah program S1 di STKIP Muhammadiyah Bangka Belitung, Insyaallah tahun ini akan di upgrade menjadi Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung. Sekarang aku juga tinggal di Pangkalpinang, karena aku kuliah di daerah sini juga. Tetapi sesekali aku juga sering pulang ke Koba, sekitar 2 minggu seklai.
Aku ingin bercerita tentang pengalaman diriku ketika ingin menuju perguruan tinggi. Setiap orang sih pasti punya cerita yang berbeda-beda.
Awal mula ketika masih SMA kleas 12, masa-masa pendaftaran SNMPTN, yaitu masuk perguruan tinggi menggunakan jalur rapor. Sebelum itu, tidak semua siswa-siswa yang bisa ikut jalur ini, dan ketika itu di sekolah aku daftar, akhirnya aku bisa mengikuti jalur masuk perguruan tinggi SNMPTN. Ingat ini bukan berarti aku sudah bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Ini saja aku bisa ikut jalur SNMPTN.
Pada saat pengisian jurusan yang diinginkan, pada pilihan pertama, aku memilih jurusan Pendidikan Dokter di Universitas Sriwijaya letaknya di kota Palembang, karena aku pikir di sana aku bisa menimba ilmu yang begitu banyak dan juga mendapatkan relasi yang luas namun dengan jarak yang tak begitu jauh dai Orang tua. Kemudian, pilihan kedua yaitu jurusan Pendidikan Dokter di Ui. Aku ga tau entah kenapa begitu pd nya diriku memilih jurusan itu, di perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Namun di samping menunggunya hasil SNMPTN, aku mulai belajar untuk masuk jalur SBMPTN, aku belajar semaksimal mungkin sampai aku ikut bimbel.
Ketika masa pengumuman penerimaan mahasiswa baru melalui jalur SNMPTN telah tiba, aku sedikit gugup. Tetapi teman-teman ku semua gugup banget. Kenapa aku biasa saja? Karena aku tidak terlalu mengharapkan jalur SNMPTN ini karena aku tau, aku tidak akan lolos dengan nilai rapotku yang tergolong oke-oke aja. Kalaupun lolos sih Alhamdulillah, berarti ini rejeki ku. Setelah dibuka, akhirnya aku tidak lolos, dan aku sih fine-fine aja dan sekarang mau fokus ke jalur SBMPTN.
Sambil menunggu hari tes SBMPTN, setiap hari aku belajar, latihan-latihan soal, bimbel. Pada suatu malam aku udah ngerasa capek banget dan tiba-tiba kayak ada yang aneh di dalam hidung aku, ternyata keluar darah. Aku panik waktu itu, terus aku searching di internet cara mengatasinya. Beberapa hari telah berlalu, hingga saatnya hari tes tiba. Lokasi tes nya ada di UBB, yaitu di Balun iijuk. Saat tes, aku gugup banget. Tapi lama kelamaan biasa saja. Aku mengisi tes awalnya dengan tenang walaupun tetap masih ada yang aku tidak tau jawabannya. Namun ketika pertengahan aku terlihat seperti orang yang tergesa-gesa mengisi jawabannya.Waktunya begitu cepat berlalu. Ada beberapa soal yang ketinggalan. Aku sangat panik sampai akhirnya selesai tes. Ketika keluar ruangan aku sudah pasrah, tidak tahu lagi bagaimana. Tetapi masih ada kesempatan kedua, yaitu tes SBMPTN yang ke 2 denga seling waktu 2 minnguan setelah tes pertama.
Sejak selesai tes yang pertamana aku ingin belajar lebih giat lagi. Hingga datang saatnya waktu tes tiba. Pada kondisi yang sama, aku tetap gugup, aku takut melakukan kesalahan lagi. Ketika tes dimulai aku mengisi soal dengan percaya diri, dan semoga hasilnya benar dan bisa lolos. Namun takdir berkata lain, aku tidak lolos. Tetapi nilai ku naik begitu jauh dari tes yang pertama. Aku tidak tau lagi, hati ku begitu hancur, perjuangn ku selama ini tidak terbalaskan.
Setelah 2 hari aku menenangkan diri, aku bangkit lagi untuk berjuang masuk perguruan tinggi jalur mandiri. Yang pertama itu aku ikut tes jalur mandiri di UIN Syarif Hidayatullah lokasinya di Tanggerang Selatan dengan jurusan yang sama yaitu Pendidikan Dokter. Aku tidak sendiri, aku ditemani oleh Ayah ku dan teman Kakak ipar ku. Kami berdiam 5 hari di sana, dengan hari pertama, kami istirahat dulu, kemudian hari kedua mencari lokasi tes mandiri. Kemudian hari ke tiga tibalah hari tes dilakukan. Ketika tes dilakukan dengan kondisi yang sama aku begitu gugup, pikiran ku bercampur aduk. Aku takut ada banyak soal yang tidak bisa aku jawab. Tapi aku tetap bertawakal, apapun yang terjadi, begitulah takdirku. Ada soal baru yang aku temukan di sini, yaitu soal dengan bahasa arab, astaghfirullah,, aku semakin gugup, aku tidak tahu sama sekali bahasa arab, aku isi asal-asalan dan aku tidak yakiun itu semua ada yang benar. Aku pasrah setelah itu, tidak tau lagi harus bagaimana. Kalaupun tidak lulus, mungkin aku mencari perguruan tinggi lainnya. Setelah itu kami pulang ke hotel dan dalam perjalanan, akumendapatkan pesan whatsapp dari UIN Syarif Hidayatullah, pesannya berisi seperti menawarkan tempat duduk Pendidikan Kedokteran dengan tebusan uang 150 juta,,ini maksudnya apa? Kata Ayah ku, jangan di respon, ayah mencari uang dengan halal, ayah juga ingin aku mausk perguruan tinggi dengan halal. Setelah ayah mengatakan itu, aku pun langsung paham, apa maksudnya. Ayah ku memanglah seorang pekebun, beliatu meamng orang yang tidak sekolah, tetapi ayah ku tau segala sesuatu kondisi dan ibu ku di rumah mendoakan kami agar kami baik-baik saja dan aku lolos di perguruan tinggi yang cocok dengan ku Hasil tes diumumkan harius menunggu satu bulan lebih, kenapa bisa lam begitu ya, aku pun tidak tahu. Setelah itu, besoknya kami pulang ke bangka.
Selang mengunggu pengumuman dari UIN Syarif Hidayatullah, aku tidak patah semangat, aku mengikuti tes mandiri lagu di Universitas Sriwijaya denga jurusan yang berbeda yaitu Dokter Gigi, karena aku pikir lolos Dokter gigi lebih berpeluang untuk orang sepertiku. Ketika hari tes tiba, aku mengisi soal dengan tenang, tidak tahu kenapa aku merasa soal-soalnya bersahabat dengan ku. Aku mengisinya denga tenang dan aku merasa percaya diri aku akan lolos. Namun aku bertemu dengan teman satu sekolah ku, ia mengambil jurusan Kesehatan Masyarakat kalau tidak salah, setelah tes kami cerita-cerita sambil aku menunggu jemputan ayah ku. Setelah seling 3 hari, pengumuman pun tiba, aku melihat di website UNSRI,, ternyata aku tidak lolos. Aku mematung, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kemudian, aku menangis namun tidak lama, karena temanku yang ketemu tadi menelfon ku, dan dia mengabarkan aku, dia lulus. Aku ikut senang tapi di lain sisi aku sangan kecewa. Ia menceritakan sel=gala kesah keluhnya, dia begitu senang karena lulus, kemudian dia menangis terharu. Namun apa kabar ku? Dia sama seklai tidak menanyakan kabar ku. Aku sangat sedih, tidaada yang menghiburku, sedih ku,, hanya aku dan tuhan yang tau,, walaupun aku tidak bilang ke orang tua, pasti mereka juga merasakan apa yang aku rasakan, namun aku cukup diam saja, aku tidak ingin mereka terbebani karena kesedihanku. Namun ada satu hal yang membuar ku heran. UIN Syarif Hidayatullah membutuhkan 1 bulan lebih untuk pengumuman penerimaan mahasiswa bari, tetapi
Selang beberapa hari, aku bangkit lagi untuk yang kesekian kalinya, inilah harapan ku yang terakhir menuju jurusan Kedokteran, yaitu Universitas Muhammadiyah Palembang. Dengan jurusan yang sama, aku memilih jurusan Pendidikan Dokter. Aku belajar lebih giat lagi,menambah porsi waktu untuk belajar, sampai2 kejadian malam waktu itu terulang lagi, aku mimisan lagi namun aku tahu bagaimana cara mengatasinya, hingga hari tes tiba. Aku mengisi nya dengan tenang. Karena sudah terbiasa denga soal banyak dan waktu yang sedikit. Hari ke dua adalah tes wawancara, ketika tes wawancara juga aku biasa saja, dan aku merasa bisa menjawab pertanyaan dengan baik. Hri pengumuman pun tiba hanya butuh waktu 1 malam. Dan malam itu adalah malam yang paling hancur bagi ku. Mungkin memang bukan rejeki ku untuk masuk Kedokteran ini, aku tidak lulus. Aku ingin menangis sekuat-kuatnya tetapi posisiya aku sedang di rumah saudara jadi tidak enak. Jadi aku menangis dalam hati saja. Setelah itu aku berjalan menghampiri ayah ku, dan ayak ku langsung tahudari raut wajah ku. Ya sudah memang belum rejekinya, mungku rejei aku di lain,dan kita perlu mencarinya lagi. Kemudian besoknya kami pulang ke Bangka.
Aku butuh waktu 3 hari menenangkan diri,, aku bermain game, kemudian nangis lagi. Begitulah keseharian ku selama 3 hari. Namun aku sadar, sampai kapan aku harus begini. Aku tidak mau tahun depan, pokoknya tahun ini aku harus kuliah. Aku teringat dengan kakak sepupuku yang sedang berkuliah di Bangka, kemudian aku tanya-tanya denga dia, apa nama perguruan tingginya. Kemudian aku mencari-cari informasi di internet, dan aku merasa tertarik dengan jurusan Pendidikan matematika di sana. Kemudian aku langsung daftar dan hari tes pun tiba. Entah kenapa, sejak aku mengenal perguruan tinggi ini, aku merasa tenang dan merasa hidupku masih ada peluang. Dalam satu hari langsung tes tertulis, tes ngaji, dan wawancara. Aku merasa bersahabat denga diriku sendiri waktu itu. Aku sangat merasa percaya diri. Aku juga mendapatkan banyak teman baru, dan kau juga bertemu dengan teman satu SMA dengan ku dan kami saat ini sangat dekat walupun beda jurusan. Kami saling membantu, dan pastinya aku sangat menyayanginya. Dengan begitu senang, Aku lulus dan menjadi mahasiswa di STKIP Muhammadiyah Bangka Belitung. Dan Insyaallah secepatnya perguruan tinggi ini menjadi Universitas Muhammadiyah Bnagka Belitung, dan mampu bersaing denga perguruan tinggi lainnya. Setelah S1 aku berencana untuk ikut program S2, Insyaallah jika Allah mengizinkan, Aaamiiiinn.
Sekian dari perjalanan ku menuju perguruan tinggi yang paling cocok dengan ku dan aku banggakan saat ini, semoga sukse selalu. Aamiinn. Maaf jika ada kesalahan kata, Terima Kasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar